Minggu, 29 April 2012

Makalah Belajar dan pembelajaran































Tugas Kelompok
M.K. belajar dan Pembelajaran


Makalah
Hakikat mengajar


OLEH:
KELOMPOK I
1.    JUSNAWATI
2.    AMALIAH ASTIKA SARI
3.    SARTIKA DEWI RAJAB
4.  SELVIANA


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PRNGRTAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2011

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan dan sampai saat ini terus dilaksanakan. Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan mulai dari pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan sarana prasarana pendidikan, pengangkatan tenaga kependidikan sampai pengesahan undang-undang system pendidikan nasional serta undang-undang guru dan dosen.
Sebagian besar guru-guru menggunakan metode pengajaran ceramah,tanya jawab, atau pemberian tugas dalam proses pembelajaran. Walaupun metode tersebut masih relevan dengan perkembangan pendidikan sekarang ini, tetapi kurang mampu mendorong siswa berperan secara aktif. Setiap guru menyadari bahwa dalam proses belajar mengajar selalu ada siswanya yang mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tidak mampu mencapai ketuntasan belajar.
Makalah  ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hakikat mengajar  bagimana seorang guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan benar sesuai yang diharapkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

                                    Makassar,  Oktober  2011
                                        Wassalam



                                                                                                                  Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………… i
Kata Pengantar……………………………………………………………………... ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………………………………… 1
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………..  2
C.     Tujuan………………………………………………………………………  2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
A.    Belajar………………………………………………………………………  3
B.     Hakikat Mengajar…………………………………………………………..  4
C.     Perubahan Perilaku Dalam Mengajar………………………………………  6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………………. .. 13
B.     Saran………………………………………………………………………... 13
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… 14












BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Mengapa manusia belajar ? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan. Jawaban lengakapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahu dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu bertanya atau mempertanyakan sesuatu, mulai dari hal-hal yang sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Hasrat ingin mengetahui itu telah tampak sejak anak masih kanak-kanak, bahkan masih bayi. Apa yang dapat dijangkau diraihnya, dipegangnya, dimasukkan ke dalam mulutnya, dijatuhkan atau dilemparkan. Tampaknya ia belajar, ia melakukan eksperimen. Dengan demikian ia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman atau eksperimen. Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan, nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut.
Kalau ditelusuri jalannya mengenai sejarah pendidikan ternyata bahwa sejak dahulu kala dikalangan ahli-ahli filsafat Yunani Kuno telah terdengar suara-suara yang menyeroti sistem pendidikan Yunani pada masa itu, terutama ditunjukkan pada penggunaan disiplin yang sangat keras di sekolah-sekolah yang terlalu ketat dan kaku, pengajaran yang tidak didasarkan pada pemikiran, tetapi pada tingkat fakta-fakta. Apa yang dianggap baru dalam sistem pendidikan, ada kalanya tidaklah baru sama sekali. Plato (427-347 S.M), seorang murid Socrates, dalam bukunya Republica telah menyatakan : hindarkanlah paksaan dalam pendidikan dan antarlah pelajaran anak-anak itu ke dalam bentuk permainan. Pengetahuan tak dapat ditanamkan secara mekanik, belajar harus didasarkan pada keinginan anak itu sendiri untuk belajar.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian belajar ?
2.         Bagaimana tujuan-tujuan belajar?
3.         Bagaimana halikat mengajar?
4.         Perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar?
C.       Tujuan
1.         Untuk mengetahui pengertian belajar.
2.         Untuk memperoleh  tujuan-tujuan belajar.
3.         Untuk dapat memahami halikat mengajar.
4.         Untuk mengetahui perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.  BELAJAR
1.      Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saja, baik disekolah, dikelas, dijalanan dalam waktu yang tak ditentukan sebelumnya. Namun demikian, satu hal sudah pasti bahwa belajar dilakukan manusia senantiasa oleh iktikad dan maksud tertentu ( Oemar Hamalik: 2004 : 154). Belajar adalah mengalami dalam arti belajar terjadi dalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan fisik, contohnya buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa belajar ( Udin S. Winata Putra, dk : 2002 : 2.3)
Skiner (dalam Mumamad Tohri : 2007 : 4) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi kuat, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut : 1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar, 2) Respon Pembelajaran, dan 3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut :
1.              Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar.
2.              Respon Pembelajaran,.
3.              konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Belajar (Learning) adalah salah satu topic paling penting di dalam psikologi dewasa ini, namun konsepnya sulit untuk didefinisikan. American Heritage Dictionary mendefinisikan sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension, or mastery Throughnexperince or study” (Untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi). Tetapi kebanyakan psikolog masnganggap definisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang samar di dalamnya seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang beberapa tahun ini belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima definisi belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati. Salah satu yang paling populer adalah definisi yang dikemukakan oleh Kimball (1961) yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen di dalam Behavioral Potentiality (Potensi Behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat).
2.      Tujuan Belajar
Menurut Sardiman (2004), mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan belajar terdapat tiga jenis, yaitu :
a)            Untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan berpikir. Dengan tujuan belajar ini akan lihat tepat sistem presentasi atau pemberian tugas materi pelajaran.
b)            Untuk penanaman konsep dan keterampilan yaitu suatu cara belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik dan psikhis. Pencapaian tujuan belajar ini cenderung dilakukan dengan cara pendemonstrasian, pengamatan, dan pelatihan.
c)            Untuk pembentukan sikap, yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak. Pencapaian tujaun belajar ini dengan cara pemberian contoh perilaku yang perlu ditiru atau tidak dengan mengarahkan anak dalam kegiatan mengamati, meniru dan mencontoh.
B.  HAKIKAT MENGAJAR
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah perubahan maka hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan belajar mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individu anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksud agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan masteru learning dalam mengajar. Masteri learning adalah salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individual. Mastery learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan ( Suharsimi Arikunto : 1998 : 31)
Vernon S. Gerlach & Donal P. Elay dalam bukunya Teaching & Media – A systematic Approach mengemukakan terjadinya belajar dengan mengaitkan belajar dan perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain, perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati.
Definisi-definisi yang telah dikemukakan itu diberikan oleh ahli-ahli yang berbeda-beda pendiriannya, berbeda titik tolaknya. Akan tetapi kalau dikaji dapat juga disimpulkan sebagai berikut :
1.      Belajar itu membawa perubahan dalam arti perubahan perilaku, baik aktual, maupun potensial.
2.      Perubahan itu pada dasarnya adalah perolehan kecakapan baru.
3.      Perubahan itu terjadi karena pengalaman, baik yang diusahakan dengan sengaja, maupun yang tidak diusahakan dengan sengaja.
Apakah mengajar itu ? William C. Morse & G. Max Wingo (1962) mengemukakan tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi tradisional, definisi menurut kamus, dan definisi mutakhir.
1.     Secara tradisional mengajar diartikan sebagai proses memberikan kepada pelajar pengetahuan da keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata pelajaran yang telah ditentukan.
2.    Definisi kamus, mengajar diartikan sebagai menunjukkan bagaimana mengerjakan, menjadikan mengerti, memberi instruksi kepada.
3.    Definisi mutakhir merumuskan mengajar sebagai sistem kegiatan untuk membimbing atau merangsang belajar anak mengerti dan membimbing anak sebagai indisvidu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
C.       PERUBAHAN PERILAKU DALAM BELAJAR
   Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.    Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
5. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
Ø Informasi verbal yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
Ø Kecakapan intelektual yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Ø Strategi kognitif kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
Ø Sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
Ø Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
1.    Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
2.    Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
3.    Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
4.    Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
5.    Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
6.    Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
7.    Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
8.    Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.






\







BAB II
PENUTUP


A.  KESIMPULAN
Berdasarkan isi makalah tentang hakikat mengajar, kami dapat menyimpulkan bahwa:
1.         Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang.
2.         Hakikat mengajar adalah suatu proses yang  mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
3.         Perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.
4.         Perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk Informasi verbal, Kecakapan intelektual, Strategi kognitif kecakapan individu, sikap dan Kecakapan motorik.
B.  SARAN
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan baik dari isi maupun yang umelatar belakangi judul makalah tersebut. Maka kami sebagai penyusun makalah ini meminta saran mapun kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan dari makalah ini baik edisi sebelumnya dan selanjutnya dan sebaiknya dalam pembuatan makalah menggunakan referensi yang banyak agar makalah kelihatan sempurna.



DAFTAR PUSTAKA
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan penerbit UNM.

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Sabri ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Padang : Quantum Teaching.
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.






























Tugas Kelompok
M.K. belajar dan Pembelajaran


Makalah
Hakikat mengajar


OLEH:
KELOMPOK I
1.    JUSNAWATI
2.    AMALIAH ASTIKA SARI
3.    SARTIKA DEWI RAJAB
4.  SELVIANA


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PRNGRTAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2011

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan dan sampai saat ini terus dilaksanakan. Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan mulai dari pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan sarana prasarana pendidikan, pengangkatan tenaga kependidikan sampai pengesahan undang-undang system pendidikan nasional serta undang-undang guru dan dosen.
Sebagian besar guru-guru menggunakan metode pengajaran ceramah,tanya jawab, atau pemberian tugas dalam proses pembelajaran. Walaupun metode tersebut masih relevan dengan perkembangan pendidikan sekarang ini, tetapi kurang mampu mendorong siswa berperan secara aktif. Setiap guru menyadari bahwa dalam proses belajar mengajar selalu ada siswanya yang mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tidak mampu mencapai ketuntasan belajar.
Makalah  ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hakikat mengajar  bagimana seorang guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan benar sesuai yang diharapkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

                                    Makassar,  Oktober  2011
                                        Wassalam



                                                                                                                  Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………… i
Kata Pengantar……………………………………………………………………... ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………………………………… 1
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………..  2
C.     Tujuan………………………………………………………………………  2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
A.    Belajar………………………………………………………………………  3
B.     Hakikat Mengajar…………………………………………………………..  4
C.     Perubahan Perilaku Dalam Mengajar………………………………………  6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………………. .. 13
B.     Saran………………………………………………………………………... 13
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… 14












BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Mengapa manusia belajar ? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan. Jawaban lengakapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahu dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu bertanya atau mempertanyakan sesuatu, mulai dari hal-hal yang sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Hasrat ingin mengetahui itu telah tampak sejak anak masih kanak-kanak, bahkan masih bayi. Apa yang dapat dijangkau diraihnya, dipegangnya, dimasukkan ke dalam mulutnya, dijatuhkan atau dilemparkan. Tampaknya ia belajar, ia melakukan eksperimen. Dengan demikian ia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman atau eksperimen. Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan, nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut.
Kalau ditelusuri jalannya mengenai sejarah pendidikan ternyata bahwa sejak dahulu kala dikalangan ahli-ahli filsafat Yunani Kuno telah terdengar suara-suara yang menyeroti sistem pendidikan Yunani pada masa itu, terutama ditunjukkan pada penggunaan disiplin yang sangat keras di sekolah-sekolah yang terlalu ketat dan kaku, pengajaran yang tidak didasarkan pada pemikiran, tetapi pada tingkat fakta-fakta. Apa yang dianggap baru dalam sistem pendidikan, ada kalanya tidaklah baru sama sekali. Plato (427-347 S.M), seorang murid Socrates, dalam bukunya Republica telah menyatakan : hindarkanlah paksaan dalam pendidikan dan antarlah pelajaran anak-anak itu ke dalam bentuk permainan. Pengetahuan tak dapat ditanamkan secara mekanik, belajar harus didasarkan pada keinginan anak itu sendiri untuk belajar.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian belajar ?
2.         Bagaimana tujuan-tujuan belajar?
3.         Bagaimana halikat mengajar?
4.         Perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar?
C.       Tujuan
1.         Untuk mengetahui pengertian belajar.
2.         Untuk memperoleh  tujuan-tujuan belajar.
3.         Untuk dapat memahami halikat mengajar.
4.         Untuk mengetahui perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.  BELAJAR
1.      Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saja, baik disekolah, dikelas, dijalanan dalam waktu yang tak ditentukan sebelumnya. Namun demikian, satu hal sudah pasti bahwa belajar dilakukan manusia senantiasa oleh iktikad dan maksud tertentu ( Oemar Hamalik: 2004 : 154). Belajar adalah mengalami dalam arti belajar terjadi dalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan fisik, contohnya buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa belajar ( Udin S. Winata Putra, dk : 2002 : 2.3)
Skiner (dalam Mumamad Tohri : 2007 : 4) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi kuat, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut : 1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar, 2) Respon Pembelajaran, dan 3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut :
1.              Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar.
2.              Respon Pembelajaran,.
3.              konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Belajar (Learning) adalah salah satu topic paling penting di dalam psikologi dewasa ini, namun konsepnya sulit untuk didefinisikan. American Heritage Dictionary mendefinisikan sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension, or mastery Throughnexperince or study” (Untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi). Tetapi kebanyakan psikolog masnganggap definisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang samar di dalamnya seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang beberapa tahun ini belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima definisi belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati. Salah satu yang paling populer adalah definisi yang dikemukakan oleh Kimball (1961) yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen di dalam Behavioral Potentiality (Potensi Behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat).
2.      Tujuan Belajar
Menurut Sardiman (2004), mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan belajar terdapat tiga jenis, yaitu :
a)            Untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan berpikir. Dengan tujuan belajar ini akan lihat tepat sistem presentasi atau pemberian tugas materi pelajaran.
b)            Untuk penanaman konsep dan keterampilan yaitu suatu cara belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik dan psikhis. Pencapaian tujuan belajar ini cenderung dilakukan dengan cara pendemonstrasian, pengamatan, dan pelatihan.
c)            Untuk pembentukan sikap, yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak. Pencapaian tujaun belajar ini dengan cara pemberian contoh perilaku yang perlu ditiru atau tidak dengan mengarahkan anak dalam kegiatan mengamati, meniru dan mencontoh.
B.  HAKIKAT MENGAJAR
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah perubahan maka hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan belajar mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individu anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksud agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan masteru learning dalam mengajar. Masteri learning adalah salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individual. Mastery learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan ( Suharsimi Arikunto : 1998 : 31)
Vernon S. Gerlach & Donal P. Elay dalam bukunya Teaching & Media – A systematic Approach mengemukakan terjadinya belajar dengan mengaitkan belajar dan perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain, perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati.
Definisi-definisi yang telah dikemukakan itu diberikan oleh ahli-ahli yang berbeda-beda pendiriannya, berbeda titik tolaknya. Akan tetapi kalau dikaji dapat juga disimpulkan sebagai berikut :
1.      Belajar itu membawa perubahan dalam arti perubahan perilaku, baik aktual, maupun potensial.
2.      Perubahan itu pada dasarnya adalah perolehan kecakapan baru.
3.      Perubahan itu terjadi karena pengalaman, baik yang diusahakan dengan sengaja, maupun yang tidak diusahakan dengan sengaja.
Apakah mengajar itu ? William C. Morse & G. Max Wingo (1962) mengemukakan tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi tradisional, definisi menurut kamus, dan definisi mutakhir.
1.     Secara tradisional mengajar diartikan sebagai proses memberikan kepada pelajar pengetahuan da keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata pelajaran yang telah ditentukan.
2.    Definisi kamus, mengajar diartikan sebagai menunjukkan bagaimana mengerjakan, menjadikan mengerti, memberi instruksi kepada.
3.    Definisi mutakhir merumuskan mengajar sebagai sistem kegiatan untuk membimbing atau merangsang belajar anak mengerti dan membimbing anak sebagai indisvidu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
C.       PERUBAHAN PERILAKU DALAM BELAJAR
   Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.    Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
5. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
Ø Informasi verbal yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
Ø Kecakapan intelektual yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Ø Strategi kognitif kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
Ø Sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
Ø Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
1.    Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
2.    Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
3.    Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
4.    Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
5.    Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
6.    Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
7.    Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
8.    Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.






\







BAB II
PENUTUP


A.  KESIMPULAN
Berdasarkan isi makalah tentang hakikat mengajar, kami dapat menyimpulkan bahwa:
1.         Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang.
2.         Hakikat mengajar adalah suatu proses yang  mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
3.         Perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.
4.         Perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk Informasi verbal, Kecakapan intelektual, Strategi kognitif kecakapan individu, sikap dan Kecakapan motorik.
B.  SARAN
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan baik dari isi maupun yang umelatar belakangi judul makalah tersebut. Maka kami sebagai penyusun makalah ini meminta saran mapun kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan dari makalah ini baik edisi sebelumnya dan selanjutnya dan sebaiknya dalam pembuatan makalah menggunakan referensi yang banyak agar makalah kelihatan sempurna.



DAFTAR PUSTAKA
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan penerbit UNM.

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Sabri ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Padang : Quantum Teaching.
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.






























Tugas Kelompok
M.K. belajar dan Pembelajaran


Makalah
Hakikat mengajar


OLEH:
KELOMPOK I
1.    JUSNAWATI
2.    AMALIAH ASTIKA SARI
3.    SARTIKA DEWI RAJAB
4.  SELVIANA


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PRNGRTAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2011

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan dan sampai saat ini terus dilaksanakan. Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan mulai dari pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan sarana prasarana pendidikan, pengangkatan tenaga kependidikan sampai pengesahan undang-undang system pendidikan nasional serta undang-undang guru dan dosen.
Sebagian besar guru-guru menggunakan metode pengajaran ceramah,tanya jawab, atau pemberian tugas dalam proses pembelajaran. Walaupun metode tersebut masih relevan dengan perkembangan pendidikan sekarang ini, tetapi kurang mampu mendorong siswa berperan secara aktif. Setiap guru menyadari bahwa dalam proses belajar mengajar selalu ada siswanya yang mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tidak mampu mencapai ketuntasan belajar.
Makalah  ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hakikat mengajar  bagimana seorang guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan benar sesuai yang diharapkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

                                    Makassar,  Oktober  2011
                                        Wassalam



                                                                                                                  Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………… i
Kata Pengantar……………………………………………………………………... ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………………………………… 1
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………..  2
C.     Tujuan………………………………………………………………………  2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
A.    Belajar………………………………………………………………………  3
B.     Hakikat Mengajar…………………………………………………………..  4
C.     Perubahan Perilaku Dalam Mengajar………………………………………  6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………………. .. 13
B.     Saran………………………………………………………………………... 13
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… 14












BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Mengapa manusia belajar ? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan. Jawaban lengakapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahu dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu bertanya atau mempertanyakan sesuatu, mulai dari hal-hal yang sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Hasrat ingin mengetahui itu telah tampak sejak anak masih kanak-kanak, bahkan masih bayi. Apa yang dapat dijangkau diraihnya, dipegangnya, dimasukkan ke dalam mulutnya, dijatuhkan atau dilemparkan. Tampaknya ia belajar, ia melakukan eksperimen. Dengan demikian ia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman atau eksperimen. Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan, nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut.
Kalau ditelusuri jalannya mengenai sejarah pendidikan ternyata bahwa sejak dahulu kala dikalangan ahli-ahli filsafat Yunani Kuno telah terdengar suara-suara yang menyeroti sistem pendidikan Yunani pada masa itu, terutama ditunjukkan pada penggunaan disiplin yang sangat keras di sekolah-sekolah yang terlalu ketat dan kaku, pengajaran yang tidak didasarkan pada pemikiran, tetapi pada tingkat fakta-fakta. Apa yang dianggap baru dalam sistem pendidikan, ada kalanya tidaklah baru sama sekali. Plato (427-347 S.M), seorang murid Socrates, dalam bukunya Republica telah menyatakan : hindarkanlah paksaan dalam pendidikan dan antarlah pelajaran anak-anak itu ke dalam bentuk permainan. Pengetahuan tak dapat ditanamkan secara mekanik, belajar harus didasarkan pada keinginan anak itu sendiri untuk belajar.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian belajar ?
2.         Bagaimana tujuan-tujuan belajar?
3.         Bagaimana halikat mengajar?
4.         Perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar?
C.       Tujuan
1.         Untuk mengetahui pengertian belajar.
2.         Untuk memperoleh  tujuan-tujuan belajar.
3.         Untuk dapat memahami halikat mengajar.
4.         Untuk mengetahui perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.  BELAJAR
1.      Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saja, baik disekolah, dikelas, dijalanan dalam waktu yang tak ditentukan sebelumnya. Namun demikian, satu hal sudah pasti bahwa belajar dilakukan manusia senantiasa oleh iktikad dan maksud tertentu ( Oemar Hamalik: 2004 : 154). Belajar adalah mengalami dalam arti belajar terjadi dalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan fisik, contohnya buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa belajar ( Udin S. Winata Putra, dk : 2002 : 2.3)
Skiner (dalam Mumamad Tohri : 2007 : 4) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi kuat, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut : 1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar, 2) Respon Pembelajaran, dan 3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut :
1.              Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar.
2.              Respon Pembelajaran,.
3.              konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Belajar (Learning) adalah salah satu topic paling penting di dalam psikologi dewasa ini, namun konsepnya sulit untuk didefinisikan. American Heritage Dictionary mendefinisikan sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension, or mastery Throughnexperince or study” (Untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi). Tetapi kebanyakan psikolog masnganggap definisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang samar di dalamnya seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang beberapa tahun ini belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima definisi belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati. Salah satu yang paling populer adalah definisi yang dikemukakan oleh Kimball (1961) yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen di dalam Behavioral Potentiality (Potensi Behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat).
2.      Tujuan Belajar
Menurut Sardiman (2004), mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan belajar terdapat tiga jenis, yaitu :
a)            Untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan berpikir. Dengan tujuan belajar ini akan lihat tepat sistem presentasi atau pemberian tugas materi pelajaran.
b)            Untuk penanaman konsep dan keterampilan yaitu suatu cara belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik dan psikhis. Pencapaian tujuan belajar ini cenderung dilakukan dengan cara pendemonstrasian, pengamatan, dan pelatihan.
c)            Untuk pembentukan sikap, yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak. Pencapaian tujaun belajar ini dengan cara pemberian contoh perilaku yang perlu ditiru atau tidak dengan mengarahkan anak dalam kegiatan mengamati, meniru dan mencontoh.
B.  HAKIKAT MENGAJAR
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah perubahan maka hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan belajar mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individu anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksud agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan masteru learning dalam mengajar. Masteri learning adalah salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individual. Mastery learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan ( Suharsimi Arikunto : 1998 : 31)
Vernon S. Gerlach & Donal P. Elay dalam bukunya Teaching & Media – A systematic Approach mengemukakan terjadinya belajar dengan mengaitkan belajar dan perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain, perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati.
Definisi-definisi yang telah dikemukakan itu diberikan oleh ahli-ahli yang berbeda-beda pendiriannya, berbeda titik tolaknya. Akan tetapi kalau dikaji dapat juga disimpulkan sebagai berikut :
1.      Belajar itu membawa perubahan dalam arti perubahan perilaku, baik aktual, maupun potensial.
2.      Perubahan itu pada dasarnya adalah perolehan kecakapan baru.
3.      Perubahan itu terjadi karena pengalaman, baik yang diusahakan dengan sengaja, maupun yang tidak diusahakan dengan sengaja.
Apakah mengajar itu ? William C. Morse & G. Max Wingo (1962) mengemukakan tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi tradisional, definisi menurut kamus, dan definisi mutakhir.
1.     Secara tradisional mengajar diartikan sebagai proses memberikan kepada pelajar pengetahuan da keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata pelajaran yang telah ditentukan.
2.    Definisi kamus, mengajar diartikan sebagai menunjukkan bagaimana mengerjakan, menjadikan mengerti, memberi instruksi kepada.
3.    Definisi mutakhir merumuskan mengajar sebagai sistem kegiatan untuk membimbing atau merangsang belajar anak mengerti dan membimbing anak sebagai indisvidu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
C.       PERUBAHAN PERILAKU DALAM BELAJAR
   Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.    Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
5. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
Ø Informasi verbal yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
Ø Kecakapan intelektual yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Ø Strategi kognitif kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
Ø Sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
Ø Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
1.    Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
2.    Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
3.    Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
4.    Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
5.    Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
6.    Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
7.    Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
8.    Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.






\







BAB II
PENUTUP


A.  KESIMPULAN
Berdasarkan isi makalah tentang hakikat mengajar, kami dapat menyimpulkan bahwa:
1.         Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang.
2.         Hakikat mengajar adalah suatu proses yang  mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
3.         Perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.
4.         Perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk Informasi verbal, Kecakapan intelektual, Strategi kognitif kecakapan individu, sikap dan Kecakapan motorik.
B.  SARAN
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan baik dari isi maupun yang umelatar belakangi judul makalah tersebut. Maka kami sebagai penyusun makalah ini meminta saran mapun kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan dari makalah ini baik edisi sebelumnya dan selanjutnya dan sebaiknya dalam pembuatan makalah menggunakan referensi yang banyak agar makalah kelihatan sempurna.



DAFTAR PUSTAKA
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan penerbit UNM.

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Sabri ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Padang : Quantum Teaching.
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.






























Tugas Kelompok
M.K. belajar dan Pembelajaran


Makalah
Hakikat mengajar


OLEH:
KELOMPOK I
1.    JUSNAWATI
2.    AMALIAH ASTIKA SARI
3.    SARTIKA DEWI RAJAB
4.  SELVIANA


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PRNGRTAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2011

Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan secara berkesinambungan dan sampai saat ini terus dilaksanakan. Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan mulai dari pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan sarana prasarana pendidikan, pengangkatan tenaga kependidikan sampai pengesahan undang-undang system pendidikan nasional serta undang-undang guru dan dosen.
Sebagian besar guru-guru menggunakan metode pengajaran ceramah,tanya jawab, atau pemberian tugas dalam proses pembelajaran. Walaupun metode tersebut masih relevan dengan perkembangan pendidikan sekarang ini, tetapi kurang mampu mendorong siswa berperan secara aktif. Setiap guru menyadari bahwa dalam proses belajar mengajar selalu ada siswanya yang mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tidak mampu mencapai ketuntasan belajar.
Makalah  ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hakikat mengajar  bagimana seorang guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan benar sesuai yang diharapkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.

                                    Makassar,  Oktober  2011
                                        Wassalam



                                                                                                                  Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………… i
Kata Pengantar……………………………………………………………………... ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………………………………… 1
B.     Rumusan Masalah…………………………………………………………..  2
C.     Tujuan………………………………………………………………………  2
BAB II TINJAUN PUSTAKA
A.    Belajar………………………………………………………………………  3
B.     Hakikat Mengajar…………………………………………………………..  4
C.     Perubahan Perilaku Dalam Mengajar………………………………………  6
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………………. .. 13
B.     Saran………………………………………………………………………... 13
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… 14












BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Mengapa manusia belajar ? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan. Jawaban lengakapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahu dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu bertanya atau mempertanyakan sesuatu, mulai dari hal-hal yang sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Hasrat ingin mengetahui itu telah tampak sejak anak masih kanak-kanak, bahkan masih bayi. Apa yang dapat dijangkau diraihnya, dipegangnya, dimasukkan ke dalam mulutnya, dijatuhkan atau dilemparkan. Tampaknya ia belajar, ia melakukan eksperimen. Dengan demikian ia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman atau eksperimen. Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan, nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut.
Kalau ditelusuri jalannya mengenai sejarah pendidikan ternyata bahwa sejak dahulu kala dikalangan ahli-ahli filsafat Yunani Kuno telah terdengar suara-suara yang menyeroti sistem pendidikan Yunani pada masa itu, terutama ditunjukkan pada penggunaan disiplin yang sangat keras di sekolah-sekolah yang terlalu ketat dan kaku, pengajaran yang tidak didasarkan pada pemikiran, tetapi pada tingkat fakta-fakta. Apa yang dianggap baru dalam sistem pendidikan, ada kalanya tidaklah baru sama sekali. Plato (427-347 S.M), seorang murid Socrates, dalam bukunya Republica telah menyatakan : hindarkanlah paksaan dalam pendidikan dan antarlah pelajaran anak-anak itu ke dalam bentuk permainan. Pengetahuan tak dapat ditanamkan secara mekanik, belajar harus didasarkan pada keinginan anak itu sendiri untuk belajar.
B.       Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian belajar ?
2.         Bagaimana tujuan-tujuan belajar?
3.         Bagaimana halikat mengajar?
4.         Perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar?
C.       Tujuan
1.         Untuk mengetahui pengertian belajar.
2.         Untuk memperoleh  tujuan-tujuan belajar.
3.         Untuk dapat memahami halikat mengajar.
4.         Untuk mengetahui perubahan perilaku apa yang diperoleh dalam belajar.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.  BELAJAR
1.      Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saja, baik disekolah, dikelas, dijalanan dalam waktu yang tak ditentukan sebelumnya. Namun demikian, satu hal sudah pasti bahwa belajar dilakukan manusia senantiasa oleh iktikad dan maksud tertentu ( Oemar Hamalik: 2004 : 154). Belajar adalah mengalami dalam arti belajar terjadi dalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan fisik, contohnya buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa belajar ( Udin S. Winata Putra, dk : 2002 : 2.3)
Skiner (dalam Mumamad Tohri : 2007 : 4) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi kuat, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut : 1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar, 2) Respon Pembelajaran, dan 3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut :
1.              Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar.
2.              Respon Pembelajaran,.
3.              konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Belajar (Learning) adalah salah satu topic paling penting di dalam psikologi dewasa ini, namun konsepnya sulit untuk didefinisikan. American Heritage Dictionary mendefinisikan sebagai berikut: “To gain knowledge, comprehension, or mastery Throughnexperince or study” (Untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui pengalaman atau studi). Tetapi kebanyakan psikolog masnganggap definisi ini tidak bisa diterima sebab ada istilah yang samar di dalamnya seperti pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan. Sepanjang beberapa tahun ini belakangan ini ada kecenderungan untuk menerima definisi belajar yang merujuk pada perubahan dalam perilaku yang dapat diamati. Salah satu yang paling populer adalah definisi yang dikemukakan oleh Kimball (1961) yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen di dalam Behavioral Potentiality (Potensi Behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat).
2.      Tujuan Belajar
Menurut Sardiman (2004), mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan belajar terdapat tiga jenis, yaitu :
a)            Untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan berpikir. Dengan tujuan belajar ini akan lihat tepat sistem presentasi atau pemberian tugas materi pelajaran.
b)            Untuk penanaman konsep dan keterampilan yaitu suatu cara belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik dan psikhis. Pencapaian tujuan belajar ini cenderung dilakukan dengan cara pendemonstrasian, pengamatan, dan pelatihan.
c)            Untuk pembentukan sikap, yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak. Pencapaian tujaun belajar ini dengan cara pemberian contoh perilaku yang perlu ditiru atau tidak dengan mengarahkan anak dalam kegiatan mengamati, meniru dan mencontoh.
B.  HAKIKAT MENGAJAR
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah perubahan maka hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan belajar mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individu anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksud agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan masteru learning dalam mengajar. Masteri learning adalah salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individual. Mastery learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan ( Suharsimi Arikunto : 1998 : 31)
Vernon S. Gerlach & Donal P. Elay dalam bukunya Teaching & Media – A systematic Approach mengemukakan terjadinya belajar dengan mengaitkan belajar dan perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. Dengan kata lain, perilaku adalah suatu tindakan yang dapat diamati atau hasil yang diakibatkan oleh tindakan atau beberapa tindakan yang dapat diamati.
Definisi-definisi yang telah dikemukakan itu diberikan oleh ahli-ahli yang berbeda-beda pendiriannya, berbeda titik tolaknya. Akan tetapi kalau dikaji dapat juga disimpulkan sebagai berikut :
1.      Belajar itu membawa perubahan dalam arti perubahan perilaku, baik aktual, maupun potensial.
2.      Perubahan itu pada dasarnya adalah perolehan kecakapan baru.
3.      Perubahan itu terjadi karena pengalaman, baik yang diusahakan dengan sengaja, maupun yang tidak diusahakan dengan sengaja.
Apakah mengajar itu ? William C. Morse & G. Max Wingo (1962) mengemukakan tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi tradisional, definisi menurut kamus, dan definisi mutakhir.
1.     Secara tradisional mengajar diartikan sebagai proses memberikan kepada pelajar pengetahuan da keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata pelajaran yang telah ditentukan.
2.    Definisi kamus, mengajar diartikan sebagai menunjukkan bagaimana mengerjakan, menjadikan mengerti, memberi instruksi kepada.
3.    Definisi mutakhir merumuskan mengajar sebagai sistem kegiatan untuk membimbing atau merangsang belajar anak mengerti dan membimbing anak sebagai indisvidu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.
C.       PERUBAHAN PERILAKU DALAM BELAJAR
   Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.    Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
5. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
Ø Informasi verbal yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
Ø Kecakapan intelektual yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Ø Strategi kognitif kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
Ø Sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
Ø Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
1.    Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
2.    Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
3.    Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
4.    Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
5.    Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
6.    Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
7.    Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
8.    Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.






\







BAB II
PENUTUP


A.  KESIMPULAN
Berdasarkan isi makalah tentang hakikat mengajar, kami dapat menyimpulkan bahwa:
1.         Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang.
2.         Hakikat mengajar adalah suatu proses yang  mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.
3.         Perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.
4.         Perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk Informasi verbal, Kecakapan intelektual, Strategi kognitif kecakapan individu, sikap dan Kecakapan motorik.
B.  SARAN
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan baik dari isi maupun yang umelatar belakangi judul makalah tersebut. Maka kami sebagai penyusun makalah ini meminta saran mapun kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan dari makalah ini baik edisi sebelumnya dan selanjutnya dan sebaiknya dalam pembuatan makalah menggunakan referensi yang banyak agar makalah kelihatan sempurna.



DAFTAR PUSTAKA
Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan penerbit UNM.

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Sabri ahmad. 2007. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Padang : Quantum Teaching.
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar